spot_img
Minggu, Agustus 16, 2026
spot_img

11.000 Lamaran per Menit: Ketika Membangun Jejaring (Building Networking) Menjadi Keterampilan Paling Manusiawi

spot_img

| TERASPASUNDAN.COM | Oleh: Sylvester Hendrik P. Tacazily

Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi & Praktisi Sales & Marketing di Industri bedding manufacturing

Ada satu angka yang belakangan berseliweran di lini masa profesional dan membuat banyak

- Advertisement -
-Advertisement-
Google search engine

orang berhenti sejenak: LinkedIn mencatat rata-rata 11.000 lamaran kerja dikirim setiap

menit di platformnya atau melonjak sekitar 45 persen hanya dalam kurun setahun.

Bayangkan sebentar. Dalam waktu yang Anda butuhkan untuk membaca paragraf pembuka

- Advertisement -

ini, sekitar sepuluh ribu orang baru saja menekan tombol Apply.

Yang membuat angka itu terasa getir bukan besarnya, melainkan sebabnya. Survei Canva

menemukan hampir separuh pelamar kini memakai kecerdasan buatan untuk menyusun dan

mengirimkan lamaran. Di seberang meja, perusahaan membalas dengan senjata yang sama:

sistem penyaring otomatis yang menyortir ribuan berkas sebelum satu pun mata manusia

menatapnya. Maka lahirlah pemandangan paling ganjil sepanjang 2026 yakni robot melamar

Baca Juga

kepada robot, sementara manusia menunggu di ruang tunggu yang sunyi.

Fenomena inilah yang ingin saya baca ulang, bukan lewat kacamata teknologi, melainkan

lewat perspektif Estetika Humanisme. Sebab di balik banjir data itu tersimpan pertanyaan

yang sangat tua dan sangat manusiawi: apa artinya benar-benar dikenal oleh orang lain?

Baca Juga

Banjir yang Justru Membuat Sunyi

Data platform rekrutmen Ashby, sebagaimana dikutip Forbes pada Juli 2026, menunjukkan

jumlah pelamar per satu lowongan telah naik tiga kali lipat sejak 2021 yang kini rata-rata

lebih dari 300 orang memperebutkan satu kursi. Ironisnya, pada periode yang sama jumlah

lowongan yang dipublikasikan justru menyusut sekitar 35 persen sejak awal 2023. Kolamnya

mengecil, ikannya berlipat.

Kolumnis Forbes, Vibhas Ratanjee, menulis kalimat yang menurut saya layak dibingkai: AI

bukanlah penyebab lonjakan ini, ia hanya menyingkap bahwa saringan yang selama ini kita

pakai sesungguhnya tidak pernah benar-benar menyaring. Ia lalu menyebut luka yang jarangdibicarakan di ruang HRD mana pun: “Penolakan setidaknya memberi tahu Anda bahwa Anda

Baca Juga  Momentum Isra Mi’raj, Camat Bojongmangu Ajak Masyarakat Teladani Akhlak Rasulullah di Era Digital

terlihat. Keheningan memberi tahu Anda bahwa Anda tidak.”

Gema persoalan itu terasa nyata di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat 7,35 juta orang

berstatus pengangguran terbuka, dan lebih dari satu juta di antaranya atau sekitar 1,03 juta

orang adalah lulusan sarjana. Riset LPEM FEB UI bahkan menemukan hal yang lebih

menyayat: sekitar 45.000 sarjana dan 6.000 lulusan pascasarjana telah berhenti mencari

kerja sama sekali. Mereka bukan kalah bersaing akan tetapi mereka lelah tidak pernah

terlihat.

Di titik ini persoalannya berpindah wilayah. Ia tidak lagi soal siapa yang CV-nya paling

optimal, melainkan soal siapa yang keberadaannya diakui. Dan pengakuan, sejak dulu, tidak

pernah lahir dari algoritma.

Yang Tersisa Ketika Algoritma Kehabisan Kata

Anehnya, di tengah ekosistem yang serba otomatis ini, jalur paling kuno justru terbukti paling

ampuh. Data LinkedIn menunjukkan sekitar 70 persen profesional diterima bekerja di

perusahaan tempat mereka sudah memiliki koneksi. Jalur referral hanya menyumbang

sekitar 2 persen dari total lamaran yang masuk, tetapi menghasilkan sekitar 11 persen dari

total perekrutan sehingga kandidat yang direkomendasikan tercatat empat sampai lima kali

lebih mungkin diterima dibanding pelamar biasa. Survei lain menemukan 64 persen

profesional lebih memercayai jaringan manusia ketimbang perkakas AI.

Ini bukan sekadar anekdot motivasional. Sosiolog Mark Granovetter sudah menulisnya pada

1973 dalam The Strength of Weak Ties: informasi pekerjaan lebih sering datang dari kenalan

jauh ketimbang sahabat karib, karena lingkaran terdekat kita cenderung mengetahui hal-hal

yang sudah kita ketahui. Hampir setengah abad kemudian, tesis itu diuji dalam skala yang

mustahil dibayangkan Granovetter. Tim peneliti pimpinan Sinan Aral dari MIT menjalankan

eksperimen acak terhadap sekitar 20 juta pengguna LinkedIn selama lima tahun,

menghasilkan dua miliar koneksi baru dan 600.000 penerimaan kerja. Temuannya, yang

terbit di jurnal Science pada 2022, mengonfirmasi sekaligus memperhalus: ikatan yang cukup

lemah berarti bukan yang paling lemah, bukan pula yang paling kuat berarti adalah yang

paling produktif membuka pintu kerja.

Artinya, jejaring yang sehat bukan soal menumpuk kontak sebanyak-banyaknya, melainkan

soal merawat keragaman. Nilai sebuah relasi terletak pada dunia berbeda yang dibawanya ke

hadapan kita.Membangun Jejaring sebagai Persoalan Estetika

Di sinilah Estetika Humanisme menawarkan pisau bedahnya. Kita terlanjur menyempitkan

Baca Juga  Pemkab Karawang Diminta Menjelaskan, Pembongkaran 9 Pohon Ki Tambleg yang Diduga Dijual ke Jakarta ?

“estetika” menjadi urusan keindahan visual, padahal akar katanya, aisthesis, berarti kepekaan

indrawi atau berarti kemampuan menangkap sesuatu secara utuh sebelum ia sempat kita

kalkulasi. Alexander Baumgarten memperkenalkan estetika justru sebagai ilmu tentang

pengetahuan yang lahir dari pencerapan, bukan dari nalar hitung-menghitung.

Membangun jejaring, jika kita jujur, adalah latihan kepekaan semacam itu. Ia menuntut

kemampuan membaca ruang, menangkap keraguan di balik senyum sopan, tahu kapan harus

bicara dan kapan cukup mendengar. Tidak satu pun dari itu bisa diringkas menjadi prompt.

Joseph Aoun, dalam Robot-Proof (2017), menyebut tiga literasi yang wajib dimiliki manusia

di era mesin cerdas: literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Dua yang pertama

kini bisa dikejar siapa saja lewat kursus daring beberapa pekan. Yang ketiga kemampuan

berkomunikasi, berempati, dan bergerak lincah di antara perbedaan budaya ini tidak punya

jalan pintas. Di Indonesia, Rhenald Kasali termasuk yang gigih mempopulerkan gagasan

literasi baru ini ke ruang-ruang kuliah. Menariknya, justru ketika AI mengambil alih

penyaringan berkas, literasi manusia berubah dari pelengkap menjadi pembeda utama.

Namun di sinilah letak jebakannya. Ketika networking dijual sebagai “strategi memenangkan

pasar kerja”, ia gampang tergelincir menjadi transaksi murni. Filsuf Martin Buber jauh hari

membedakan dua cara manusia berelasi: Ich-Du (Aku–Engkau) dan Ich-Es (Aku–Itu). Dalam

relasi Aku–Itu, orang lain hadir sebagai objek yang berguna: pintu masuk, jembatan, batu

loncatan. Dalam relasi Aku–Engkau, ia hadir sebagai pribadi utuh yang tidak habis dijelaskan

oleh manfaatnya bagi saya.

Pembedaan Buber ini sekaligus menjawab keberatan yang paling sering muncul setiap kali

topik networking dibicarakan di Indonesia: bukankah ini sekadar nama lain dari “orang

dalam”? Keberatan itu masuk akal dan tidak boleh diabaikan. Namun keduanya berpijak pada

logika yang berlawanan. Praktik “orang dalam” bekerja dengan menutup pintu akan

memangkas kompetisi, menyingkirkan kandidat yang lebih layak, dan menjadikan relasi

sebagai alat untuk mengambil hak orang lain. Jejaring yang sehat justru bekerja dengan

membuka pintu: ia menyampaikan informasi yang seharusnya memang terbuka,

memperkenalkan orang pada kesempatan, lalu membiarkan kompetensi yang berbicara.

Rekomendasi yang jujur tidak pernah berbunyi “terimalah dia karena dia kenalan saya”,

melainkan “temuilah dia, saya sudah melihat cara dia bekerja”. Garis pemisahnya tipis, tetapi

Baca Juga  Muspika Cabangbungin Gelar Vaksinasi Malam Hari

tegas: yang satu mengaburkan penilaian, yang lain justru memperkaya bahan penilaian.Banyak praktik networking hari ini, harus diakui, terjebak di mode pertama. Kita mengoleksi

koneksi seperti mengoleksi badge, mengirim pesan berbasis templat kepada ratusan orang,

lalu heran mengapa tak ada yang membalas dengan hangat. Padahal manusia punya radar

yang sangat peka terhadap ketulusan yang dipalsukan dan radar itulah, ironisnya, yang tidak

dimiliki algoritma mana pun.

Catatan dari Lapangan

Sebagai orang yang sehari-hari bekerja di ranah sales dan pemasaran industri manufaktur,

saya belajar satu hal yang tidak pernah muncul di materi pelatihan: kesepakatan hampir tidak

pernah lahir di pertemuan pertama. Ia tumbuh dari kehadiran yang berulang dan persistensi,

dari ingatan akan nama anak seorang klien, dari janji kecil yang ditepati saat tidak ada yang

mengawasi. Angka penjualan hanyalah jejak yang ditinggalkan oleh kepercayaan dan bukan

sebaliknya.

Pelajaran itu, saya kira, berlaku persis sama bagi mahasiswa yang sedang menyiapkan diri

memasuki dunia kerja. Jejaring tidak dibangun pada saat kita membutuhkannya; ia dibangun

jauh sebelum itu, ketika kita belum punya apa pun untuk diminta. Hadir sebelum butuh,

memberi sebelum meminta, dan merawat ikatan-ikatan lemah yang tampak tidak berguna

hari ini merupakan tiga hal sederhana yang tidak bisa didelegasikan kepada mesin.

Penutup: Jejaring sebagai Karya

Jika estetika adalah kepekaan, dan humanisme adalah keyakinan bahwa manusia tidak

pernah boleh menjadi sekadar alat, maka membangun jejaring sesungguhnya adalah tindakan

estetis sekaligus etis. Ia karya yang dikerjakan perlahan, tanpa tenggat, dengan bahan baku

berupa perhatian dan waktu menjadi dua hal yang justru paling langka di era serba cepat ini.

Sebelas ribu lamaran per menit adalah potret sebuah zaman yang kelebihan sinyal dan

kekurangan perjumpaan. Di tengah kebisingan itu, keunggulan kita bukan pada seberapa

cepat kita mengirim berkas, melainkan pada seberapa sungguh kita mampu memandang

orang lain sebagai “Engkau”, bukan “Itu”. Mesin boleh membaca ribuan CV dalam sedetik.

Tetapi hanya manusia yang bisa mengingat seseorang dan memilih untuk peduli.

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis berdasarkan sumber yang dapat dipercaya. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi teraspasundan.com dan dapat mengalami pembaruan sesuai perkembangan informasi terbaru maupun klarifikasi dari pihak terkait.

Artikel Lainnya

Pemerintahan

Politik

Top News

Follow US

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Nasional

Daerah

Peristiwa

Popup Gambar
^
Download Aplikasi GoKar
Transportasi Online Asli Karawang
INSTALL
X