KARAWANG | TERASPASUNDAN.COM | Keterbatasan fisik dan hambatan biaya seringkali menjadi jurang pemisah bagi penyandang disabilitas untuk mengenyam pendidikan tinggi. Namun, stigma tersebut berhasil dipatahkan oleh Andi Mahendra.
Mahasiswa Program Studi PPKN Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang ini membuktikan bahwa pengguna kursi roda juga berhak dan mampu meraih pendidikan yang setara.
Ditemui di area kampus pada Rabu (12/8/2026), pemuda yang kini menginjak semester 3 ini menceritakan perjalanan berlikunya menuju bangku perkuliahan.
“Jujur, sebelumnya saya sempat ragu juga, karena saya pengguna kursi roda. Takut kampusnya tidak aksesibel, terus jadi beban buat teman-teman juga,” ungkap Andi.
Tidak ingin menyerah pada keraguan, Andi berinisiatif turun langsung ke lapangan. Ia melakukan riset dan menyurvei sejumlah perguruan tinggi di Kabupaten Karawang untuk mencari kampus yang benar-benar inklusif.
Pilihannya akhirnya jatuh pada UBP Karawang. Menurut Andi, kampus ini membuktikan kata “inklusif” lewat fasilitas nyata yang memudahkannya beraktivitas.
“Alhamdulillah dari Universitas Buana Perjuangan ini saya menemukan suasana yang beda. Dari segi lift-nya, dari segi parkirnya, semua sangat ramah buat teman-teman disabilitas,” terangnya.
Langkah Andi mengejar gelar sarjana semakin ringan setelah ia dinyatakan lolos sebagai penerima manfaat Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Ia mengaku beasiswa dari pemerintah tersebut memberikan dampak yang sangat masif bagi kelangsungan studinya.
“Dampaknya sangat besar. KIP inilah yang bisa bikin saya di sini sekarang. Saya bisa fokus belajar, tidak khawatir dengan soal biaya,” tegas Andi.
Dengan kondisi fisik yang terakomodasi oleh fasilitas kampus dan biaya yang telah ditanggung beasiswa, Andi kini hanya berfokus pada satu hal: membuktikan prestasinya di bidang akademik.
Di akhir perbincangan, Andi menitipkan pesan menyentuh bagi teman-teman penyandang disabilitas lainnya yang masih menyimpan ragu untuk berkuliah.
“Jangan biarkan keraguan dari orang lain atau diri sendiri menentukan batas kemampuan kamu. Keterbatasan fisik itu nyata, tapi bukan berarti kita nggak bisa wujudkan mimpi besar dan meraih prestasi,” pungkasnya.
Hadirnya fasilitas yang ramah bagi Andi menjadi bukti nyata bahwa UBP Karawang tidak sekadar membangun gedung fisik, melainkan menciptakan rumah yang menghargai hak semua mahasiswa tanpa terkecuali.




