| TERASPASUNDAN.COM | Oleh: Sylvester Hendrik P. Tacazily
Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi & Praktisi Sales & Marketing di Industri bedding manufacturing
Ada satu angka yang belakangan berseliweran di lini masa profesional dan membuat banyak
orang berhenti sejenak: LinkedIn mencatat rata-rata 11.000 lamaran kerja dikirim setiap
menit di platformnya atau melonjak sekitar 45 persen hanya dalam kurun setahun.
Bayangkan sebentar. Dalam waktu yang Anda butuhkan untuk membaca paragraf pembuka
ini, sekitar sepuluh ribu orang baru saja menekan tombol Apply.
Yang membuat angka itu terasa getir bukan besarnya, melainkan sebabnya. Survei Canva
menemukan hampir separuh pelamar kini memakai kecerdasan buatan untuk menyusun dan
mengirimkan lamaran. Di seberang meja, perusahaan membalas dengan senjata yang sama:
sistem penyaring otomatis yang menyortir ribuan berkas sebelum satu pun mata manusia
menatapnya. Maka lahirlah pemandangan paling ganjil sepanjang 2026 yakni robot melamar
kepada robot, sementara manusia menunggu di ruang tunggu yang sunyi.
Fenomena inilah yang ingin saya baca ulang, bukan lewat kacamata teknologi, melainkan
lewat perspektif Estetika Humanisme. Sebab di balik banjir data itu tersimpan pertanyaan
yang sangat tua dan sangat manusiawi: apa artinya benar-benar dikenal oleh orang lain?
Banjir yang Justru Membuat Sunyi
Data platform rekrutmen Ashby, sebagaimana dikutip Forbes pada Juli 2026, menunjukkan
jumlah pelamar per satu lowongan telah naik tiga kali lipat sejak 2021 yang kini rata-rata
lebih dari 300 orang memperebutkan satu kursi. Ironisnya, pada periode yang sama jumlah
lowongan yang dipublikasikan justru menyusut sekitar 35 persen sejak awal 2023. Kolamnya
mengecil, ikannya berlipat.
Kolumnis Forbes, Vibhas Ratanjee, menulis kalimat yang menurut saya layak dibingkai: AI
bukanlah penyebab lonjakan ini, ia hanya menyingkap bahwa saringan yang selama ini kita
pakai sesungguhnya tidak pernah benar-benar menyaring. Ia lalu menyebut luka yang jarangdibicarakan di ruang HRD mana pun: “Penolakan setidaknya memberi tahu Anda bahwa Anda
terlihat. Keheningan memberi tahu Anda bahwa Anda tidak.”
Gema persoalan itu terasa nyata di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat 7,35 juta orang
berstatus pengangguran terbuka, dan lebih dari satu juta di antaranya atau sekitar 1,03 juta
orang adalah lulusan sarjana. Riset LPEM FEB UI bahkan menemukan hal yang lebih
menyayat: sekitar 45.000 sarjana dan 6.000 lulusan pascasarjana telah berhenti mencari
kerja sama sekali. Mereka bukan kalah bersaing akan tetapi mereka lelah tidak pernah
terlihat.
Di titik ini persoalannya berpindah wilayah. Ia tidak lagi soal siapa yang CV-nya paling
optimal, melainkan soal siapa yang keberadaannya diakui. Dan pengakuan, sejak dulu, tidak
pernah lahir dari algoritma.
Yang Tersisa Ketika Algoritma Kehabisan Kata
Anehnya, di tengah ekosistem yang serba otomatis ini, jalur paling kuno justru terbukti paling
ampuh. Data LinkedIn menunjukkan sekitar 70 persen profesional diterima bekerja di
perusahaan tempat mereka sudah memiliki koneksi. Jalur referral hanya menyumbang
sekitar 2 persen dari total lamaran yang masuk, tetapi menghasilkan sekitar 11 persen dari
total perekrutan sehingga kandidat yang direkomendasikan tercatat empat sampai lima kali
lebih mungkin diterima dibanding pelamar biasa. Survei lain menemukan 64 persen
profesional lebih memercayai jaringan manusia ketimbang perkakas AI.
Ini bukan sekadar anekdot motivasional. Sosiolog Mark Granovetter sudah menulisnya pada
1973 dalam The Strength of Weak Ties: informasi pekerjaan lebih sering datang dari kenalan
jauh ketimbang sahabat karib, karena lingkaran terdekat kita cenderung mengetahui hal-hal
yang sudah kita ketahui. Hampir setengah abad kemudian, tesis itu diuji dalam skala yang
mustahil dibayangkan Granovetter. Tim peneliti pimpinan Sinan Aral dari MIT menjalankan
eksperimen acak terhadap sekitar 20 juta pengguna LinkedIn selama lima tahun,
menghasilkan dua miliar koneksi baru dan 600.000 penerimaan kerja. Temuannya, yang
terbit di jurnal Science pada 2022, mengonfirmasi sekaligus memperhalus: ikatan yang cukup
lemah berarti bukan yang paling lemah, bukan pula yang paling kuat berarti adalah yang
paling produktif membuka pintu kerja.
Artinya, jejaring yang sehat bukan soal menumpuk kontak sebanyak-banyaknya, melainkan
soal merawat keragaman. Nilai sebuah relasi terletak pada dunia berbeda yang dibawanya ke
hadapan kita.Membangun Jejaring sebagai Persoalan Estetika
Di sinilah Estetika Humanisme menawarkan pisau bedahnya. Kita terlanjur menyempitkan
“estetika” menjadi urusan keindahan visual, padahal akar katanya, aisthesis, berarti kepekaan
indrawi atau berarti kemampuan menangkap sesuatu secara utuh sebelum ia sempat kita
kalkulasi. Alexander Baumgarten memperkenalkan estetika justru sebagai ilmu tentang
pengetahuan yang lahir dari pencerapan, bukan dari nalar hitung-menghitung.
Membangun jejaring, jika kita jujur, adalah latihan kepekaan semacam itu. Ia menuntut
kemampuan membaca ruang, menangkap keraguan di balik senyum sopan, tahu kapan harus
bicara dan kapan cukup mendengar. Tidak satu pun dari itu bisa diringkas menjadi prompt.
Joseph Aoun, dalam Robot-Proof (2017), menyebut tiga literasi yang wajib dimiliki manusia
di era mesin cerdas: literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Dua yang pertama
kini bisa dikejar siapa saja lewat kursus daring beberapa pekan. Yang ketiga kemampuan
berkomunikasi, berempati, dan bergerak lincah di antara perbedaan budaya ini tidak punya
jalan pintas. Di Indonesia, Rhenald Kasali termasuk yang gigih mempopulerkan gagasan
literasi baru ini ke ruang-ruang kuliah. Menariknya, justru ketika AI mengambil alih
penyaringan berkas, literasi manusia berubah dari pelengkap menjadi pembeda utama.
Namun di sinilah letak jebakannya. Ketika networking dijual sebagai “strategi memenangkan
pasar kerja”, ia gampang tergelincir menjadi transaksi murni. Filsuf Martin Buber jauh hari
membedakan dua cara manusia berelasi: Ich-Du (Aku–Engkau) dan Ich-Es (Aku–Itu). Dalam
relasi Aku–Itu, orang lain hadir sebagai objek yang berguna: pintu masuk, jembatan, batu
loncatan. Dalam relasi Aku–Engkau, ia hadir sebagai pribadi utuh yang tidak habis dijelaskan
oleh manfaatnya bagi saya.
Pembedaan Buber ini sekaligus menjawab keberatan yang paling sering muncul setiap kali
topik networking dibicarakan di Indonesia: bukankah ini sekadar nama lain dari “orang
dalam”? Keberatan itu masuk akal dan tidak boleh diabaikan. Namun keduanya berpijak pada
logika yang berlawanan. Praktik “orang dalam” bekerja dengan menutup pintu akan
memangkas kompetisi, menyingkirkan kandidat yang lebih layak, dan menjadikan relasi
sebagai alat untuk mengambil hak orang lain. Jejaring yang sehat justru bekerja dengan
membuka pintu: ia menyampaikan informasi yang seharusnya memang terbuka,
memperkenalkan orang pada kesempatan, lalu membiarkan kompetensi yang berbicara.
Rekomendasi yang jujur tidak pernah berbunyi “terimalah dia karena dia kenalan saya”,
melainkan “temuilah dia, saya sudah melihat cara dia bekerja”. Garis pemisahnya tipis, tetapi
tegas: yang satu mengaburkan penilaian, yang lain justru memperkaya bahan penilaian.Banyak praktik networking hari ini, harus diakui, terjebak di mode pertama. Kita mengoleksi
koneksi seperti mengoleksi badge, mengirim pesan berbasis templat kepada ratusan orang,
lalu heran mengapa tak ada yang membalas dengan hangat. Padahal manusia punya radar
yang sangat peka terhadap ketulusan yang dipalsukan dan radar itulah, ironisnya, yang tidak
dimiliki algoritma mana pun.
Catatan dari Lapangan
Sebagai orang yang sehari-hari bekerja di ranah sales dan pemasaran industri manufaktur,
saya belajar satu hal yang tidak pernah muncul di materi pelatihan: kesepakatan hampir tidak
pernah lahir di pertemuan pertama. Ia tumbuh dari kehadiran yang berulang dan persistensi,
dari ingatan akan nama anak seorang klien, dari janji kecil yang ditepati saat tidak ada yang
mengawasi. Angka penjualan hanyalah jejak yang ditinggalkan oleh kepercayaan dan bukan
sebaliknya.
Pelajaran itu, saya kira, berlaku persis sama bagi mahasiswa yang sedang menyiapkan diri
memasuki dunia kerja. Jejaring tidak dibangun pada saat kita membutuhkannya; ia dibangun
jauh sebelum itu, ketika kita belum punya apa pun untuk diminta. Hadir sebelum butuh,
memberi sebelum meminta, dan merawat ikatan-ikatan lemah yang tampak tidak berguna
hari ini merupakan tiga hal sederhana yang tidak bisa didelegasikan kepada mesin.
Penutup: Jejaring sebagai Karya
Jika estetika adalah kepekaan, dan humanisme adalah keyakinan bahwa manusia tidak
pernah boleh menjadi sekadar alat, maka membangun jejaring sesungguhnya adalah tindakan
estetis sekaligus etis. Ia karya yang dikerjakan perlahan, tanpa tenggat, dengan bahan baku
berupa perhatian dan waktu menjadi dua hal yang justru paling langka di era serba cepat ini.
Sebelas ribu lamaran per menit adalah potret sebuah zaman yang kelebihan sinyal dan
kekurangan perjumpaan. Di tengah kebisingan itu, keunggulan kita bukan pada seberapa
cepat kita mengirim berkas, melainkan pada seberapa sungguh kita mampu memandang
orang lain sebagai “Engkau”, bukan “Itu”. Mesin boleh membaca ribuan CV dalam sedetik.
Tetapi hanya manusia yang bisa mengingat seseorang dan memilih untuk peduli.






