Oleh: Santi Nurmayanti ( Kabiro Ciamis)
Atas nama Manajemen Teras Pasundan News & Teras TV, mengucapkan Selamat hari Seni budaya Internasional
Special Redaksi,Teras Pasundan News
Tanggal 15 April diperingati sebagai Hari Seni dan Budaya Internasional. Momentum ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah pengingat penting bagi seluruh umat manusia akan nilai luhur yang menjadi identitas peradaban. Seni dan budaya adalah jati diri, warisan tak ternilai yang diwariskan nenek moyang, serta jembatan yang menghubungkan berbagai bangsa dalam satu kesatuan kemanusiaan.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital yang serba cepat, tantangan terhadap eksistensi budaya semakin nyata. Budaya asing masuk dengan mudah melalui internet, film, musik, dan gaya hidup. Tanpa disadari, hal ini perlahan dapat mengikis nilai-nilai lokal yang telah bertahan selama berabad-abad. Oleh karena itu, refleksi pada hari ini harus menjawab satu pertanyaan besar: Sudahkah kita menjadi penjaga budaya yang baik, atau justru membiarkannya terkikis waktu?
Budaya sebagai Identitas dan Perekat Bangsa
Budaya bukan hanya soal tarian, lagu, atau pakaian adat. Lebih dari itu, budaya mencakup sistem nilai, norma, kearifan lokal, dan cara pandang masyarakat dalam menjalani kehidupan. Bagi Indonesia yang dikenal sebagai negara kepulauan dengan ratusan suku bangsa, keberagaman budaya adalah kekayaan utama.
Seni dan budaya memiliki kekuatan magis untuk menyatukan perbedaan. Ia mengajarkan toleransi, menghormati keragaman, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Ketika budaya dihargai dan dilestarikan, maka karakter bangsa akan terbentuk kuat dan tidak mudah tergoyahkan oleh pengaruh negatif luar.
Upaya Nyata: Dari Kesadaran ke Aksi
Melestarikan budaya tidak bisa hanya berhenti pada wacana atau slogan. Diperlukan upaya nyata dan berkelanjutan dari berbagai pihak. Berikut adalah beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan:
1. Pengenalan dan Pendidikan Sejak Dini
Penting untuk menanamkan rasa cinta budaya sejak usia dini. Sekolah dan keluarga memiliki peran vital dalam mengenalkan lagu daerah, cerita rakyat, hingga sejarah lokal. Ketika generasi muda mengenal akarnya, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang bangga akan identitasnya.
2. Inovasi dan Adaptasi
Melestarikan budaya tidak berarti membiarkannya beku dan kuno. Kunci kebertahanan budaya di era modern adalah inovasi. Kita perlu berani mengemas seni tradisional dengan sentuhan modern agar diminati anak muda. Contohnya, musik tradisional yang digabung dengan genre kontemporer, atau batik yang dijadikan busana kasual dan formal kekinian.
3. Pemanfaatan Teknologi Digital
Media sosial dan internet harus menjadi alat promosi, bukan hanya tempat mengonsumsi budaya asing. Membuat konten kreatif tentang budaya lokal, mendokumentasikan kearifan lokal, hingga mempromosikan wisata budaya adalah cara efektif menjangkau dunia luas.
4. Apresiasi dan Dukungan Ekonomi
Seni dan budaya juga memiliki nilai ekonomi. Membeli karya anak bangsa, menghadiri pagelaran seni, dan mendukung industri kreatif lokal adalah bentuk dukungan nyata. Ketika ekosistem budaya sehat secara ekonomi, para seniman dan pelaku budaya akan termotivasi untuk terus berkarya.
5. Regulasi dan Peran Pemerintah
Pemerintah juga memiliki tanggung jawab dalam membuat kebijakan yang melindungi kekayaan budaya, mulai dari penetapan warisan budaya, pembangunan fasilitas seni, hingga diplomasi budaya di kancah internasional.
Hari Seni dan Budaya Internasional adalah momen untuk kembali introspeksi. Mari kita tidak hanya menjadi penonton di atas panggung sejarah, tetapi menjadi pelaku yang aktif menjaga warisan ini.
Mari kita rawat budaya kita seperti merawat rumah sendiri. Karena di sanalah letak identitas kita, di sanalah letak jati diri bangsa. Selamat Hari Seni dan Budaya Internasional, mari lestarikan untuk masa depan.
Penulis : Santi Nurmayanti ( Kabiro Ciamis)


