TERASPASUNDAN.COM – Sejarah 10 Muharram: Hari Asyura Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah, dan merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Hari kesepuluh bulan Muharram disebut Hari Asyura, yang memiliki makna dan sejarah panjang sebelum dan sesudah datangnya Nabi Muhammad ﷺ.
– Sebelum Islam
Sejak zaman Nabi-nabi terdahulu, tanggal 10 Muharram sudah dianggap sebagai hari yang istimewa. Berbagai peristiwa besar dan penyelamatan yang dilakukan Allah SWT terjadi pada hari ini:
– Nabi Musa a.s. dan kaumnya diselamatkan dari kejaran Firaun dan bala tentaranya saat melewati Laut Merah. Air terbelah menjadi jalan, sedangkan Firaun dan pasukannya tenggelam.
– Nabi Nuh a.s. beserta pengikutnya turun dari kapal bahtera setelah air banjir surut, menandai berakhirnya ujian dan dimulainya kehidupan baru.
– Nabi Ibrahim a.s. diselamatkan dari api yang dinyalakan oleh Raja Namrud.
– Nabi Yusuf a.s. dipertemukan kembali dengan ayahnya, Nabi Ya’qub a.s., setelah berpisah dalam waktu yang sangat lama.
– Nabi Yunus a.s. dikeluarkan dari perut ikan paus setelah memohon ampun kepada Allah SWT.
Karena peristiwa-peristiwa mulia ini, kaum Quraisy di Mekah pun sudah memiliki kebiasaan berpuasa pada hari Asyura sebelum Islam datang.
– Setelah Kedatangan Islam
Ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Beliau bertanya alasannya, dan mereka menjawab: “Ini adalah hari yang mulia, pada hari ini Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya, serta menenggelamkan Firaun dan pengikutnya. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur kepada Allah.”
Mendengar penjelasan itu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Kami lebih berhak kepada Musa daripada mereka.”
Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari Asyura. (HR. Bukhari dan Muslim)
Setelah kewajiban berpuasa di bulan Ramadan ditetapkan, hukum berpuasa Asyura berubah menjadi puasa sunah yang sangat dianjurkan. Nabi ﷺ bersabda bahwa puasa pada hari ini dapat menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.
– Peristiwa Penting Lainnya
Dalam sejarah Islam, tanggal 10 Muharram juga tercatat sebagai hari terjadinya Peristiwa Tragedi Karbala pada tahun 61 Hijriah. Pada hari ini, Husein bin Ali bin Abi Thalib — cucu kesayangan Rasulullah ﷺ beserta keluarga dan pengikutnya yang sedikit — gugur sebagai syahid dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan menentang penyimpangan kekuasaan saat itu. Peristiwa ini menjadi pengingat kekal akan keberanian, keteguhan prinsip, dan pengorbanan untuk keadilan.
– Refleksi Makna Hari Asyura
Di balik rangkaian sejarah yang panjang, Hari Asyura mengandung banyak pelajaran berharga untuk direnungkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Wujud Rasa Syukur yang Mendalam
Berbagai peristiwa penyelamatan mengajarkan kita bahwa pertolongan Allah SWT pasti datang bagi hamba-Nya yang sabar dan beriman. Berpuasa dan beribadah pada hari ini adalah bentuk terima kasih atas nikmat keselamatan, kesehatan, dan kesempatan hidup yang terus diberikan.
2. Meneladani Sifat Kesabaran dan Ketabahan
Perjalanan Nabi Musa, Nabi Nuh, hingga pengorbanan Husein bin Ali mengajarkan bahwa jalan menuju kebenaran tidak selalu mudah. Ada ujian, rintangan, bahkan pengorbanan yang harus dihadapi. Hari Asyura mengingatkan kita untuk tetap teguh memegang prinsip meskipun berada dalam posisi yang lemah atau tertekan.
3. Memperbaiki Diri dan Menghapus Kesalahan
Anjuran berpuasa pada hari ini dengan pahala penghapusan dosa menjadi kesempatan emas untuk membersihkan hati dan jiwa. Ini adalah momen yang tepat untuk bertaubat, memperbaiki hubungan dengan Allah, serta memperbaiki sikap dan perilaku terhadap sesama manusia.
4. Mengutamakan Keadilan dan Kebenaran
Peristiwa Karbala mengajarkan kita untuk tidak diam melihat ketidakadilan. Meskipun harus menghadapi risiko, membela kebenaran adalah kewajiban. Semangat Husein bin Ali mengingatkan agar kita tidak tergoyahkan oleh harta, jabatan, atau tekanan kekuasaan.
5. Mempererat Ukhuwah dan Kepedulian Sosial
Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk memperbanyak kebaikan, memberi makan orang lain, dan menyantuni keluarga pada hari Asyura. Hal ini melatih kita memiliki rasa empati, berbagi rezeki, serta memperkuat tali persaudaraan antarumat Islam.
– Penutup
Hari Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender, melainkan cerminan perjalanan iman manusia. Ia mengingatkan kita akan kuasa Allah yang menyelamatkan, serta semangat hamba-Nya yang tetap teguh pada kebenaran. Semoga dengan mengenang sejarah dan mengambil pelajarannya, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bersyukur, dan senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dalam setiap langkah kehidupan.
Penulis : Santi Nurmayanti
Editor : Pimpinan Redaksi


