Advertisement
Close × Iklan Header
spot_img

Langit Ciamis dan Alas Kaki yang Menjujung Semangat

spot_img

Catatan Sang Kuli Tinta

Ciamis, Teraspasundan.com – Di bawah langit Ciamis yang terkadang garang oleh terik atau syahdu oleh rintik, ada sebuah cerita yang tertulis bukan di atas kertas, melainkan di atas aspal. Cerita itu milik seorang juru warta, seorang “kuli tinta” yang langkahnya mulai bersuara beda.

Bukan karena derap yang gagah, melainkan karena alas kakinya yang mulai “berbicara” pada dunia bahwa masanya telah usai.

- Advertisement -
-Advertisement-
Google search engine

Bak Sebuah Monolog di Ujung Kaki

Pemandangan itu tertangkap secara tak sengaja. Di sela keriuhan memburu berita,21/04/26 sosok itu tertunduk. Bukan sedang meratapi nasib, melainkan sedang menatap sepatu tuanya yang kini telah jebol dimakan waktu. Kulitnya terkelupas, solnya mulai menganga,

seperti penyambung yang lelah berteriak mencari keadilan.

- Advertisement -

Namun, ada sesuatu yang sportif dalam tatapannya. Tidak ada keluhan yang meledak-ledak, hanya sebuah penerimaan yang ksatria.

Antara Niat dan Realita

Saat ditanya, dengan tersenyum tipis,sebuah senyum khas lapangan yang tetap renyah meski dibungkus kepahitan. Niat untuk mengganti dengan yang baru sudah tersimpan rapi di saku hatinya, namun dompetnya masih harus berkompromi dengan kebutuhan dapur yang lebih mendesak.

“Sebenarnya sudah berniat ingin membeli yang baru, namun apalah daya, uangnya belum ada,” ungkapnya santun, tanpa nada meminta belas kasihan.

Baginya, keterbatasan ekonomi bukanlah musuh yang harus dikutuk, melainkan lawan tanding yang harus dihadapi dengan kepala tegak. Meskipun sepatu yang compang-camping itu kerap membuatnya kikuk saat harus masuk ke ruang-ruang formal, ia tak lantas balik kanan dan pulang.

Menurutnya Ketegaran yang Tak Mengenal Kata “Jebol”

Jika sepatu memiliki batas usia, maka semangat tidak. Meski alas kaki itu sudah tak layak, tekadnya untuk mengabarkan kebenaran tetap melangkah sejauh mungkin.

Baca Juga  Sejarah, Asal Usul, dan Refleksi Hari Penyiaran Nasional

Sang kuli tinta mengajarkan kita satu hal yang sangat mahal: profesionalisme tidak selalu dilihat dari mengkilapnya pantofel, tapi dari seberapa tegak kita berdiri di atas keterbatasan.

Langkah sang wartawan ini mungkin terhambat oleh sol yang lepas, namun narasi yang ia bangun bagi masyarakat tetap utuh dan tak berlubang.

Di tengah keterbatasan, ia tetaplah seorang petarung informasi yang sportif, menerima keadaan tanpa kehilangan martabat.

(Gilang Ferdian)

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis berdasarkan sumber yang dapat dipercaya. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi teraspasundan.com dan dapat mengalami pembaruan sesuai perkembangan informasi terbaru maupun klarifikasi dari pihak terkait.

ARTIKEL LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TOP NEWS

Follow US

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Trending

Popup Gambar