TASIKMALAYA | TERASPASUNDAN.COM | Memasuki usia ke-394, Kabupaten Tasikmalaya kembali mencatat lembar sejarah panjang perjuangan dan pertumbuhan. Peringatan hari jadi kali ini bukan sekadar perayaan syukur, melainkan momen mendalam untuk merenungi keseimbangan antara ambisi mewujudkan pembangunan yang merata, keharusan mengelola anggaran secara cermat, serta menghadapi gelombang tantangan global yang datang bersamaan dengan melemahnya nilai tukar rupiah.
Selama berabad-abad, wilayah ini tumbuh dari wilayah agraris menjadi daerah yang memiliki beragam potensi mulai dari pertanian, pariwisata, hingga kerajinan rakyat. Di usia yang semakin matang, harapan masyarakat terhadap perbaikan fasilitas jalan, irigasi, layanan kesehatan, dan pendidikan semakin besar. Namun, kebutuhan yang terus berkembang ini bertemu dengan realitas anggaran daerah yang harus dikelola dengan sangat hati-hati, apalagi di tengah tekanan ekonomi makro yang tak terelakkan.
“Melemahnya nilai rupiah bukan alasan untuk menghentikan pembangunan, melainkan peringatan agar kita semakin cermat. Setiap rupiah rakyat yang kita gunakan harus benar-benar memberikan manfaat nyata, bukan sekadar proyek yang terlihat megah namun kurang bertahan lama. Kita kembali mengandalkan kekuatan sendiri, memprioritaskan bahan dan tenaga kerja lokal, agar anggaran yang terbatas bisa menjangkau lebih banyak kebutuhan warga,” ujar salah satu tokoh masyarakat Tasikmalaya dalam peringatan syukuran hari jadi, Minggu (26/7/26)
Ditegaskannya, efisiensi bukan berarti menurunkan kualitas, melainkan mengubah cara pandang: berhenti berfokus pada seremonial yang menghabiskan biaya, dan beralih ke hasil kerja yang langsung dirasakan masyarakat. “Di usia Tasikmalaya yang ke-394, kita sudah cukup dewasa untuk membedakan mana yang penting dan mana yang hanya untuk kesan semata. Di saat nilai mata uang tidak berpihak pada kita, kebijaksanaan dalam mengelola keuangan adalah bentuk cinta kita pada daerah ini,” tambahnya.
Melemahnya nilai rupiah membawa dampak nyata pada perencanaan pembangunan daerah. Harga barang dan jasa yang dibutuhkan untuk proyek pembangunan ikut meningkat, sementara kemampuan beli anggaran menjadi terbatas. Di sinilah prinsip efisiensi dan efektivitas menjadi sangat krusial. Pembangunan tidak boleh lagi sekadar mengejar kesan megah atau seremonial semata, melainkan harus berfokus pada hasil yang nyata, bermanfaat luas, dan mampu bertahan dalam jangka panjang. Setiap rupiah yang dikelola harus dipertanggungjawabkan dengan baik, agar tidak terjadi pemborosan di saat masyarakat justru sedang menghadapi tekanan ekonomi.
Tantangan ini sebenarnya adalah panggilan untuk semakin kreatif dan mandiri. Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan didorong untuk lebih memprioritaskan penggunaan sumber daya lokal, mulai dari bahan bangunan hingga tenaga kerja. Kolaborasi dengan pelaku usaha dan masyarakat juga menjadi kunci, sehingga pembangunan tidak hanya menjadi beban anggaran semata, melainkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan potensi seluruh kekuatan daerah.
“Warga Tasikmalaya dikenal dengan sifatnya yang ulet dan sederhana. Nilai itulah yang harus kita bawa ke dalam tata kelola pembangunan. Jangan sampai kesulitan ekonomi global membuat kita terpecah, melainkan menyatukan kita untuk lebih hemat, lebih cerdas, dan lebih mandiri,” tutup pernyataan tersebut.
Pada peringatan ke-394 ini, kita diingatkan kembali pada semangat leluhur yang ulet dan bijaksana. Pembangunan yang ideal adalah pembangunan yang sejalan dengan kemampuan daerah, tidak boros, namun tetap menjawab kebutuhan mendesak rakyat. Di tengah guncangan nilai mata uang dan ketidakpastian global, kehati-hatian dalam mengelola keuangan negara dan daerah adalah bentuk tanggung jawab tertinggi demi kesejahteraan bersama.
Selamat Hari Jadi Kabupaten Tasikmalaya yang ke-394. Semoga di usia yang semakin dewasa ini, Tasikmalaya mampu menyeimbangkan cita-cita kemajuan dengan kearifan dalam mengelola sumber daya, menjadikan setiap langkah pembangunan berharga, dan tetap berdiri kokoh melintasi segala tantangan zaman.
Penulis : Gilang Ferdian


