TERASPASUNDAN.COM – Bagi Bangsa Indonesia Setiap tanggal 10 Januari, kalender sejarah Indonesia mencatat sebuah noktah penting yang dikenal sebagai Hari Tritura. Lebih dari sekadar peringatan rutin, momen ini adalah monumen pengingat tentang kekuatan suara rakyat dan mahasiswa dalam menentukan arah kemudi bangsa di tengah badai krisis.
Akar Sejarah: Mengapa 10 Januari?
Tepat pada 10 Januari 1966, ribuan mahasiswa yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) bersama elemen pemuda lainnya mengepung Gedung DPR-GR. Kondisi Indonesia saat itu berada di titik nadir: inflasi melonjak hingga 600%, harga kebutuhan pokok melambung tak terkendali, dan ketegangan politik pasca-peristiwa G30S memuncak.
Dalam kegelisahan itulah, lahir tiga tuntutan legendaris yang kita kenal sebagai Tritura:
- Bubarkan PKI: Menuntut kepastian hukum dan politik terkait peristiwa G30S.
- Rombak Kabinet Dwikora: Membersihkan jajaran pemerintahan dari unsur-unsur yang dianggap tidak kompeten atau terlibat konflik kepentingan.
- Turunkan Harga: Tuntutan paling mendasar bagi perut rakyat yang kelaparan akibat krisis ekonomi.
Refleksi: Apa Maknanya Bagi Kita Sekarang?
Melihat ke belakang bukan berarti terjebak pada romantisme masa lalu. Merefleksikan Tritura di masa kini berarti memahami tiga nilai utama:
Kepekaan Terhadap Penderitaan Rakyat
Tritura mengajarkan bahwa politik tidak boleh berjarak dari realitas ekonomi. Saat harga pangan melonjak, suara pemuda hadir sebagai penyambung lidah masyarakat yang paling terdampak.
Keberanian Intelektual
Mahasiswa tahun 1966 menunjukkan bahwa kaum intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi kontrol sosial ketika mekanisme pemerintahan dianggap tidak berjalan semestinya.
Persatuan Elemen Bangsa
Gerakan ini membuktikan bahwa perubahan besar hanya bisa terjadi jika berbagai elemen—mahasiswa, pelajar, dan masyarakat sipil—memiliki kesatuan visi.
Menghidupkan Semangat Tritura di Era Digital
Tantangan kita hari ini tentu berbeda. Kita tidak lagi melawan inflasi 600% dalam konteks yang sama, namun tantangan berupa ketimpangan ekonomi, hoaks, dan polarisasi politik tetap nyata.
Refleksi Tritura hari ini seharusnya menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan bahwa kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi. Bagi generasi muda, ini adalah seruan untuk tetap kritis, logis, dan peduli terhadap isu-isu sosial yang ada di depan mata. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, namun bangsa yang bijak adalah bangsa yang belajar dari setiap lembar sejarahnya.”
Penulis : Santi Nurmayanti
Editor : Pimpinan Redaksi
Sumber : Berbagai Literasi dan Pustaka Pribadi


