Karawang – Teraspasundan.com – Pelaksanaan Panen Raya Nasional di Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Rabu (7/1/2026), diwarnai persoalan serius pada akses jalan menuju lokasi acara. Kemacetan parah terjadi di sejumlah titik, dengan panjang antrean kendaraan dilaporkan mencapai lebih dari 5 kilometer, memaksa banyak warga dan tamu undangan berjalan kaki hingga hampir 4 kilometer.
Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar terkait kesiapan dan manajemen lalu lintas oleh pihak terkait. Padahal, kegiatan berskala nasional dengan kehadiran Presiden dan ribuan peserta lazimnya disertai rekayasa lalu lintas, seperti pengaturan satu arah atau pembatasan kendaraan sejak jauh hari.
Alih-alih berjalan tertib, arus kendaraan di jalur menuju Cilebar justru bercampur tanpa skema pengalihan yang jelas. Akibatnya, kemacetan tak terhindarkan. Sejumlah warga bahkan melaporkan insiden nyaris celaka, ketika seorang pejalan kaki tersenggol kendaraan hingga terjatuh di tengah kepadatan arus lalu lintas.
“Macet total. Banyak orang akhirnya turun dan jalan kaki. Tadi ada warga kesenggol mobil sampai jatuh,” ujar salah seorang warga yang berada di lokasi.
Situasi ini diperparah dengan minimnya petugas pengatur lalu lintas di beberapa titik krusial. Sejumlah ruas jalan tampak padat tanpa pengendalian memadai, sehingga kendaraan roda dua, roda empat, dan pejalan kaki bercampur dalam ruang sempit yang berisiko.
Tak sedikit masyarakat yang akhirnya memanfaatkan ojek dadakan yang muncul dari inisiatif warga sekitar. Sepeda motor menjadi satu-satunya moda yang masih bisa bergerak di sela kemacetan, meski harus melaju perlahan di antara kendaraan yang berhenti total.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan serius tentang perencanaan dan koordinasi aparat di tingkat kecamatan dan wilayah setempat, khususnya dalam mengantisipasi lonjakan kendaraan pada acara nasional. Padahal, Panen Raya Cilebar bukan agenda mendadak dan telah dipersiapkan jauh hari.
Sejumlah warga menilai, ketidaksiapan ini mencerminkan lemahnya pengelolaan teknis di lapangan. “Acara besar, tapi jalannya tidak diatur. Harusnya sudah ada skema sejak pagi, jangan menunggu macet dulu,” keluh warga lainnya.
Kemacetan panjang dan risiko keselamatan warga ini menjadi catatan penting, bahwa kesuksesan sebuah acara nasional tidak hanya diukur dari seremoni, tetapi juga dari jaminan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan masyarakat yang terdampak langsung.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kecamatan maupun instansi terkait mengenai penyebab kemacetan parah tersebut serta langkah evaluasi yang akan diambil.


