SUBANG | TERASPASUNDAN.COM | Ada pesan tajam yang dikirimkan Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita, bagi seluruh warga dan aparatur desa di sepanjang aliran sungai Pantura. Baginya, normalisasi sungai senilai miliaran rupiah akan menjadi sia-sia jika perilaku masyarakat terhadap lingkungan tidak berubah.
Saat bermalam di Posko Pamanukan, Kang Rey menyatakan siap menjadi pemimpin yang “tidak populer” demi keselamatan jangka panjang masyarakat Pantura, Jumat (30/1/2026) malam. Ia menyoroti perilaku membuang sampah ke sungai dan maraknya bangunan liar di bantaran sungai sebagai musuh utama penanganan banjir.
Sanksi Pemotongan BKUD Tidak main-main, Kang Rey tengah menyusun skema penegakan hukum yang progresif. Desa yang kedapatan warganya masih gemar membuang sampah ke sungai akan menerima konsekuensi fiskal.
“Saya akan buat skema penegakan khusus. Desa yang paling banyak membuang sampah ke sungai akan saya kurangi Bantuan Keuangan Umum Desa (BKUD)-nya. Bahkan, wilayah yang masih membiarkan bangunan liar di aliran sungai tidak akan saya beri bantuan,” tegas Kang Rey.
Menurut Bupati, memutus siklus banjir memerlukan ketegasan sosiologis. Ia mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai sebagai bentuk kerja sama dengan pemerintah.
“Kita punya peran masing-masing. Pemerintah berjuang melobi normalisasi ke pusat, tapi masyarakat harus menjaga sungai. Jika sungai sudah dikeruk tapi sampah tetap dibuang ke sana, semuanya percuma,” pungkasnya.
Ketegasan ini diambil sebagai jalan terakhir untuk menjamin kenyamanan hidup warga Subang Pantura di masa depan. (gpn)


