Jelang Lebaran, Omset Penjualan Dodol Betawi di Kabupaten Bekasi Naik 50 Persen

CIBITUNG – TERASPASUNDAN.COM – Bagi masyarakat Bekasi, kuliner tradisional Dodol khas Betawi yang bertekstur kenyal dan memiliki cita rasa manis, sepertinya menjadi hidangan wajib yang harus tersaji saat Hari Raya Idul Fitri.

Selain itu, Dodol Betawi juga biasa melengkapi isi rantang susun yang hendak dibawa ke rumah orang tua maupun sanak saudara, menjelang lebaran yang sering disebut nyorog dalam tradisi masyarakat Bekasi.

Di beberapa wilayah Kabupaten Bekasi, masih terdapat warga yang melestarikan tradisi membuat Dodol khas Betawi. Salah satunya di Rumah Produksi Dodol Bestar milik Hasan, yang berada di Kampung Ceger, RT 03/RW 02, Desa Sukajaya Kecamatan Cibitung.

Sebagai seorang pelaku usaha dodol khas Betawi, Hasan mengaku, keahliannya dalam membuat Dodol Betawi ini diperoleh dari orang tuanya secara turun temurun. Kemudian ia mencoba memulai usaha Dodol Betawi pada tahun 2004 lalu.

“Saya membuat Dodol Betawi sejak tahun 90-an dari warisan kakek, kemudian ke orang tua ibu saya dan sampai saat ini saya pertahankan. Awalnya saya memulai usaha ini kecil-kecilan, hanya memiliki satu kuali namun makin lama kian bertambah,” kata Hasan.

Usaha Dodol Betawi milik Hasan ini memiliki ciri khas mempertahankan rasa gurih dan legit saat disantap yang tidak kalah nikmat dengan dodol lainnya. Dengan menggunakan tungku kayu bakar diaduk secara manual yang memakan waktu selama 7 hingga 8 jam.

“Bahan untuk membuat Dodol Betawi terdiri dari gula pasir, gula merah, tepung ketan dan garam, karena garam dapat membuat rasa manis yang panjang, dan memasaknya juga pakai kayu bakar agar membawa aroma khas dari kayu itu sendiri,” ujarnya.

Hasan menjelaskan, produk Dodol Betawi miliknya memiliki tujuh varian rasa, di antaranya dodol klasik original, ketan hitam, dodol kacang wijen, dodol keju, kacang tanah, dodol pandan dan durian, dengan harga yang dibandrol sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogramnya.

Dirinya mengakui pada saat Bulan Ramadan dan menjelang lebaran, permintaan Dodol Betawi miliknya mengalami peningkatan hingga 50 persen dibandingkan pada hari biasa sebelum Ramadan.

Selain para pemesan dari wilayah Kabupaten Bekasi, produk dodol Betawi milik Hasan dipasarkan ke wilayah lain di Jabodetabek.

“Di hari biasa sebelum Ramadan, dalam sebulan hanya memproduksi sedikitnya 5 kuali, namun di bulan puasa ini jelang lebaran bisa berjalan sebanyak 10 kuali, dengan target dalam satu bulan Ramadan ini sejumlah 20 ton produk Dodol Betawi,” ujarnya.

Usaha Rumah Produksi Dodol Bestar milik Hasan juga mampu memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitar, sehingga bisa menghasilkan dan meningkatkan perekonomian warga untuk menekan pengangguran.

“Dampaknya untuk masyarakat sini kita bisa memberdayakan sesuai dengan kemampuannya, yang bisa ngaduk ya ngaduk, kalau ibu untuk pengolahan dan pengadonan, kemudian untuk pengemasan para remaja yang masih sekolah dan yang sudah lulus, mereka bekerja disini alhamdulillah gak ada yang nganggur di kampung ini semua bekerja,” ujarnya.

Hasan berharap, Dodol Betawi di Kampung Ceger ini dapat terus bertahan dan dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat di wilayah Jabodetabek. Mengingat di Kampung Ceger, ada sekitar 40 lebih pelaku usaha atau pengrajin Dodol Betawi. Sehingga bisa mengangkat nama Desa Sukajaya Kecamatan Cibitung dan umumnya Kabupaten Bekasi. (Rls.)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dpdiwoilamsel