BMKG Imbau Masyarakat Siaga Hadapi Bencana Hidrometeorologi

Plt Bupati Bekasi, Akhmad Marjuki berbincang bersama unsur Forkopimda dan perangkat daerah terkait, usai memimpin Apel Siaga Bencana BPBD Kabupaten Bekasi di Plaza Pemda Kabupaten Bekasi, Cikarang Pusat, Rabu (17/11/2021).

JAKARTA – Teraspasundan.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan bahwa bencana hidrometeorologi akan datang lebih awal di akhir tahun 2021.

“Hal ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama di wilayah-wilayah yang rawan banjir, tanah longsor, dan tanah bergerak seiring dengan intensitas curah hujan yang terus meningkat,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Oleh karena itu, BMKG mengimbau kepada pemerintah dan masyarakat untuk selalu siaga dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang akan datang.

Bencana hidrometeorologi adalah sebuah bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter meteorologi, seperti curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin.

Bencana yang termasuk ke dalam bencana hidrometeorologi, antara lain kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, el nino, la nina, longsor, dan berbagai bencana lainnya.

Selain itu, BMKG menyarankan pemerintah daerah melakukan mitigasi bencana hidrometeorologi untuk meminimalkan dampak bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan terjangan angin kencang.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, A Fachri Radjab mengemukakan pentingnya penghijauan, perbaikan tata kelola air, dan penataan lingkungan untuk meminimalkan risiko banjir saat hujan deras turun.

“BMKG mengimbau agar pemerintah daerah, masyarakat, dan semua pihak terkait dengan pengelolaan sumber daya air dan pengurangan risiko bencana yang berada di wilayah terdampak La Nina agar dapat melakukan langkah pencegahan dan mitigasi terhadap peningkatan potensi bencana hidrometeorologi,” katanya.

Guna meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi, ia mengatakan, penebangan pohon di daerah lereng mesti dicegah dan sampah harus dikelola dengan baik.

Selain itu, pendataan kondisi pepohonan yang berada di kawasan jalan dan permukiman serta pemangkasan pohon-pohon yang sudah rapuh perlu dilakukan untuk meminimalkan kejadian bencana akibat tumbangnya pepohonan saat angin kencang atau puting beliung datang.

Fachri juga menyampaikan pentingnya koordinasi, sinergi, dan komunikasi antar-pemangku kepentingan terkait dalam upaya memperkuat mitigasi dan meningkatkan kesiapsiagaan guna menghadapi bencana hidrometeorologi. (Antaranews).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dpdiwoilamsel