KARAWANG, TERASPASUNDAN.COM – RSUD Jatisari terus memperkuat kualitas layanan kesehatan dengan menyiapkan pembentukan Unit Pengelola Darah (UPD) sebagai fasilitas baru di lingkungan rumah sakit. Selama ini, pelayanan yang tersedia masih sebatas transfusi darah, namun ke depan pengelolaan darah akan dilakukan secara mandiri setelah unit tersebut resmi beroperasi pasca Idulfitri.
Dokter Spesialis Patologi Klinik RSUD Jatisari, dr. Ilmi Cahya Ruslina, menjelaskan bahwa peresmian layanan terbaru tersebut direncanakan berlangsung setelah Lebaran.
Sebelumnya, RSUD Jatisari hanya memiliki Unit Transfusi Darah (UTD) yang berada di Gedung Kenanga. Kini, rumah sakit telah memiliki UPD yang akan menunjang kebutuhan pelayanan medis secara lebih optimal.
“Peresmian Unit Pengelola Darah ini direncanakan setelah Idulfitri. Sebelumnya kami hanya memiliki Unit Transfusi Darah di Gedung Kenanga, namun sekarang RSUD Jatisari sudah memiliki UPD,” ujarnya.
Ia menuturkan, sebelum adanya UPD, kebutuhan darah di RSUD Jatisari masih bergantung pada pasokan dari Palang Merah Indonesia (PMI). Namun sejak 13 Februari 2026, izin operasional untuk UPD telah resmi diterbitkan.
Saat ini pihak manajemen tengah mempersiapkan pelatihan petugas, melakukan konsolidasi internal, serta melengkapi sarana dan prasarana penunjang.
Manajemen menargetkan unit tersebut mulai beroperasi sekitar April mendatang. Meski pelayanan pasien sudah berjalan, penyediaan darah hingga kini masih belum sepenuhnya dilakukan secara mandiri oleh rumah sakit.
“Kami menargetkan UPD dapat mulai beroperasi sekitar April, meskipun untuk penyediaan darah saat ini masih belum sepenuhnya mandiri,” katanya.
Setelah UPD diresmikan, RSUD Jatisari akan mengatur sendiri proses pengadaan hingga distribusi darah, termasuk pelayanan transfusi sebagaimana yang dilakukan PMI.
Pada tahap awal operasional, rumah sakit berencana mengadakan kegiatan donor darah secara khusus. Apabila jumlah pendonor terus bertambah, nantinya akan dibentuk layanan donor darah keliling.
Ia menegaskan bahwa setiap darah yang diterima wajib melalui proses seleksi kesehatan. UPD nantinya juga akan memberikan layanan pemisahan komponen darah sesuai kebutuhan medis, seperti sel darah merah pekat, trombosit, maupun plasma.
“Setiap darah yang diterima harus melalui seleksi kesehatan sebelum diproses menjadi komponen seperti sel darah merah, trombosit, maupun plasma sesuai kebutuhan medis pasien,” tegasnya.
Saat ini, operasional UPD akan didukung oleh delapan tenaga teknis medis serta 15 tenaga nonmedis. Pihak manajemen juga tengah berupaya memastikan ketersediaan stok darah secara mandiri melalui kegiatan donor darah yang dijadwalkan setelah Lebaran.
Kebutuhan darah di RSUD Jatisari rata-rata mencapai 200 kantong setiap bulan, dengan volume berkisar antara 350 hingga 450 mililiter per kantong. Dalam tiga bulan terakhir, permintaan darah berada di kisaran 150 hingga 200 kantong.
Pada tahap awal layanan, UPD akan memprioritaskan tiga komponen utama, yakni sel darah merah (Pack Red Cell) untuk pasien anemia maupun perdarahan, trombosit bagi penderita demam berdarah dengan kadar trombosit rendah, serta plasma darah yang mengandung faktor pembekuan.
“Pasien dengan gangguan pembekuan darah atau yang mengalami perdarahan sangat membutuhkan transfusi plasma,” tuturnya.
Menurut dr. Ilmi, transfusi plasma sangat dibutuhkan oleh pasien yang mengalami gangguan pembekuan darah atau perdarahan. Selain itu, sel darah merah juga diperlukan oleh pasien anemia, penderita kanker—terutama kanker darah dengan kadar hemoglobin rendah—serta pasien hemodialisis yang umumnya membutuhkan transfusi akibat rendahnya kadar hemoglobin.


