Siasati Kemakmuran Peneliti di Labuhan Batu, Dana Hibah Harus Digulirkan dan Research Setidaknya Punya Novelty

MEDAN | TERASPASUNDAN.COM | Menjadi peneliti di Indonesia, mungkin akan menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Ketika saya mengenyam S1 di Universitas Diponegoro, saya hanya mengenal Scopus/Sinta dan software SPSS dan juga tidak wajib publikasi jurnal.

 

Hal itu berubah ketika saya mengambil studi S2 di Universitas swasta di dekat rumah saya, banyak hal yang membuat saya tercengang. Mahasiswa wajib menggunakan SMART PLS, Mandelay, SEM hingga istilah proshiding dan dana hibah.

Beberapa software research lainnya adalah Publish & Perish hingga Nvivo.Sejak rutin mereview jurnal menggunakan literatur jurnal di getdigest, saya lebih mudah untuk memparafrase jurnal.

Sayapun menyadari begitu banyak jurnal predator yang menjadi banyak kekeliruan peneliti di Indonesia, dimana masih kurang mawas dari keberadaan jurnal predator.

Selain melakukan banyak peneelitian melalui program Abdimas hingga self-research untuk tugas kuliah, saya juga memiliki kelompok peneliti UMKM dari berbagai lintas pendidikan, baik keguruan, ilmu ekonomi, hingga ilmu agama.

Kami banyak berbagi banyak hal mengenai proposal research serta kepesertaan mengikuti lomba research yang diadakan pihak ketiga, seperti Pusat Studi Muhammadiyah hingga Bank Indonesia – Pematang Siantar.

Begitulah salah satu inovasi peneliti demi sesuap nasi dan bekerja tak mengenal gaji. Bahkan beberapa dosen doktor pun mengakui dana hibah menjadi sumber pemasukan utamanya.

Dalam dunia research, inovasi juga sangat penting. Inovasi menuntut novelty. Tanpa novelty dan kreativitas, research akan menjadi draft yang sia sia.

Melalui dana hibah, peneliti dapat memangkas ongkos operasional yang keluar dari dana pribadi.

Selain mempresentasikannya di seminar internasional, peneliti disarakan siap untuk presentasi, tidak hanya sekadar peserta. Sebagai contoh, peneliti Indonesia di Eropa tidak sungkan untuk memperkenalkan tempe, melalui penelitiannya sebagai makanan fermentasi yang menjadi kebutuhan pokok di Indonesia.

Penelitian itu memenangkan penghargaan dari penyelenggara.”Penelitian menyederhanakan yang rumit, menjadi sederhana” tukas salah satu researcher, kolega saya.

Dalam kasus jurnal predator, Indonesia menduduki peringkat 10 besar di dunia sebagai pengguna jurnal predator didalam penelitiannya, dibawah Sri Langka dan India. Jurnal jurnal berbahaya tersebut rentan dengan malware dan biasanya ditolak editor publikasi yang mempersulit kaidah jurnal Indonesia dikancah internasional.

Perlu dipahami literatur mengenai jurnal ilmiah bereputasi dan jurnal predator untuk mencegah destruktif penelitian yang telah disusun secara susah payah.

Jumlah S2 di Indonesia sendiri sangatlah sedikit, diperkirakan tak lebih dari 2% populasi di Indonesia. Hal ini mungkin peneliti sendiri masih belum mendapat perhatian dari pemerintah pusat sehingga perlu ada upaya awareness , bahwa peneliti di Indonesia dapat diberi dana penelitian yang cukup, tidak harus berganti kewarganegaraan di negeri asing. Peneliti Indonesia yang mengenyam studi di luar negeripun seharusnya diberikan perhatian dan kepercayaan bagi Indonesia sendiri bahwa kemakmuran menjadi peneliti di tanah air cukup menjanjikan sebagai sumber kehidupan.

Saat ini penulis tengah melakukan thesis dibidang manajemen sumber daya manusia yang meneliti relevansi penggunaan management trainee bagi perusahaan multi nasional.

Ia mengaku kesulitan dengan pembimbingnya, seorang rektorat yang menolak judul 1 dan meminta ulang pengajuan judul 2.

Ditengah isu akreditasi universitas di labuhan batu yang berstatus baik sekali ( C ), penelitian tetap dilakukan meskipun harus menyumbangkan dana penelitian sampai 5.000.000 agar di ACC.

“Nasib penelitian sangat mengerikan, namun jiwa meneliti tidak pernah redup, bagai lentera dimalam hari” ujar Halomoan. Halomoan Sirait sendiri memilih jalur mengikuti dana hibah diatas materai didalam program beasiswa hibah yang ada di Indonesia. “Saya bangga menjadi peneliti, meskipun jalan terjal, prestasi tiada henti akan terus saya dapatkan di jenjang magister ini” ungkapnya.

Menurut Halomoan Sirait, penelitian saat ini serba berbayar biar masuk jurnal reputasi terindeks Sinta dan Scopus. Sementara fasilitas yang ia miliki , masihlah sangat minim dan beban kerja yang sangat tinggi.

Resiko tentu tetap diambil, agar cita citanya untuk menjadi dosen/reseacrher tercapai dengan syarat telah mempublikasikan 1 jurnal ilmiah.Ia bersama Rosnaini Nasution, Iqbal Nasution, Nilhar Apriani Lubis, Suheri Marzono yang terkumpul dalam kelompok master manajemen.

Dunia pendidikan saat ini memang carut marut, bahkan beberapa universitas telah meniadakan skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan.

Kelompok ini justru bersyukur bahwa kebijakan itu tidak berlaku untuk level magister, thesis tetap diadakan sebagai kewajiban, bahkan wajib presentasi dan publikasi jurnal di seminar internasional.Novelty itu sendiri adalah kebaharuan, nilai greget, bila tidak greget buat apa diteliti.

Artikel ini berkesimpulan bahwa penelitian masih sangat relevan dalam pengembangan mental bangsa.

Ditengah gempuran kemajuan teknologi digital dan Artificial Intelligence , penelitian mengharapkan sikap ilmiah yang prinsipil, baik itu epistomologis, empiris,  hingga paradigma lainnya.

Artikel ini memiliki sikap dalam menghidupi peneliti melalui pengembangan dana hibah melalui kolaborasi pemerintah dan swasta dalam mensiasati kemakmuran peneliti didaerah terpencil, terutama Labuhan Batu.

Universitas tidak mencetak manusia siap bekerja, mungkin benar menjadi seorang wirausahawan, namun dilevel tertinggi, Universitas mencetak peneliti bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Universitas juga tidak mencetak persaingan global, tapi dalam menghadapi persaingan global , universitas mencetak sikap kolaboratif yang menjadi kurikulum pendidikan saat ini.Dengan kemerdekaan meneliti, angka master , doktor hingga profesor diharapkan meningkat secara kuantitas dan kualitas.

Universitas juga memberikan kelapangan bagi sumber sumber keuangan mahasiswa melalui program beasiswa dan KIP kuliah, sebagai solusi atas UKT yang semakin meningkat. Melalui tekad dan semangat, masa depan peneliti akan mencapai pintunya bagi Indonesia emas nan gemilang. (Halomoan Sirait)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dpdiwoilamsel